Karya: Dahta Gautama
Kau torehkan belati di pipiku
sebagai kenang-kenangan bahwa kita
pernah bertemu dan bersahabat
di Tanah Abang.
Aku menjadi bromocorah
karena ibu mengutukku.
tapi aku tak pernah menjelma batu.
Sampai pada suatu malam penuh angin
kita jumpa di Bongkaran
ketika itu kita bertengkar soal Tuti
pelacur yang ketiaknya beraroma kantil.
kita tak pernah peduli, ternyata Tuti
bukan perempuan Madura
rasanya pun biasa-biasa saja.
Engkau pernah bercerita
tentang kampung. ayahmu cuma
petani kembang hias. ibumu mati, sebelum usiamu lima belas.
Kau terlalu banyak bercerita dan aku tak
bisa mengingatnya. akhirnya kita berpisah.
Kau bawa Tuti dan aku bawa bekas belati.
Lampung, April 2007









… [Trackback]…
[...] Find More Informations here: kabartop.com/belati-di-jakarta/ [...]…